Lebaran kali ini sangat berbeda

Tahun lalu saat masih di Jakarta aku selalu di temani dengan Kerjaan, WiFi, Laptop, dan Teman. Sesekali aku pergi ke Tangerang, berharap menghilang kan rasa penat rutinitas selama bekerja. Di Tangerang tempat adek Ibu aku (alias Bule). Disini lumayan ramai, karena areanya didalam komplek. Dirumahnya bule aku buka kedai kecil-kecilan. Saat siang hari anak-anak lalu lalang beli ini itu menambah ramai suasana. Tidak seperti di kota yang terdengar hanya klakson, mobil, motor, belum lagi orang-orang berteriak karena macetnya ibukota.

Lebaran di Tangerang sedikit berbeda dengan di Rumahku (Medan). Kalau di sini hubungan kekeluargaannya erat. Kenapa aku bilang kekeluargaan? Bukan ketetanggaan? Karena disini tetangga seperti keluarga. Contohnya setelah selesai shalat Idul Fitri kami saling salam-bersalaman. Mungkin sudah tradisinya kali ya. Kalau dirumah aku, sedikit berbeda. Setelah shalat Idul Fitri, kami sarapan terlebih dahulu. Lalu biasanya tetangga datang  kerumah untuk bersalaman.

Itu baru yang pertama,

Kedua, Aku di Jakarta udah sekitar 1,5 thn. Tahun lebaran pertama aku di Tangerang sendirian. Bule dan Mbak (beserta suami dan 2 anaknya) pergi ke Gunung Kidul (daerah Yogyakarta). Emang sih agak KeZeL ya (pake bingitz). Tapi mau gimana lagi, soalnya mereka beli tiketnya udah jauh hari. Aku akhirnya jaga rumah sendirian gak bisa ikut.

And the last but no least. Di Tangerang bule aku jarang buat kue lebaran (emang gak pernah kali ya). Ketika aku d tinggal sendirian, cemilan aku roti kaleng yang isinya memang roti. Bukan rengginang kerupuk ataupun mantan(hiks).

Di Medan hampir tiap hari nyokap aku buat kue lebaran. Terasa rindu akan kue buatan nyokap saat aku di Jakarta. 2 Kali lebaran 2 kali gak ngerasain kue lebaran 2 kali gak pulang. Jangan sampe 3 kali, kayak kang toyib yah.

Tahun baru 2017 aku balik ke Medan. Aku memutuskan ‘resign’dari kerjaan aku. Alasannya kenapa? Akan aku jelaskan di artikel berikutnya. Aku mencoba mencari suasana baru. Berharap bisa melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat. Sesuatu yang ‘produktif’.

Lebaran tahun ini di kampung halaman sendiri lain dari biasanya. Apa karena aku baru balik kesini ya? atau karena aku udah lama gak pulang? intinya berbeda sebelum aku berangkat ke Jakarta.

A post shared by HamDanI (@mrdanmisterius) on

Biasanya aku pergi jalan-jalan ke rumah bule, pale, bahkan ke kampung halaman orang tua bokap aku. Karena tinggal nenek dari bokap aku yang masih ada. Tapi kali ini aku kebanyakan di rumah, bersama kucing aku yaitu ‘dendy’. Namanya terdengar familiar, ya kalau lu maen Dota 2 pasti tahu.

Aku menghabiskan hari lebaran di rumah. Dulu sih sering ikut pergi kemana aja, minta uang THR, makan kue. Tapi sekarang kan beda, udah besar. Jadinya aku yang ngasih THR ke sanak-sanak saudara. Akhirnya aku tahu gimana rasanya ngasih THR :D, lebih nikmat daripada ketika d terima sama cewe.

Ya itulah cerita aku saat lebaran d sini, kumpul bersama keluarga lagi. Yang terpenting dari itu semua ya seperti yang aku tulis barusan. Bisa kumpul bersama keluarga setelah sekian lama tak bertemu.

Beginilah kalau jadi anak perantauan, sakitnya saat jauh dari orang tua. Tapi dengan begitu kita bisa lebih mandiri. Melakukan segala sesuatunya dengan sendiri. Mengasah mental dan diri kita untuk bisa hidup sendiri. Semuanya akan kembali kepadaNya kelak suatu hari, tak ada yang abadi.

Bahagia itu sederhana, bisa kumpul bersama keluarga.

views
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2018 DAN. All rights reserved.
Powered by