543 views

Ramadhan Tanpa Ibu

Tak terasa sejak kepergian Ibu 9 bulan yang lalu. Namun masih menyisahkan bekas luka yang tak kunjung sembuh bila terus mengingat Ibu. Bulan sabit di ufuk barat menandakan Ramadhan telah tiba. Bulan yang sangat dinantikan umat muslim diseluruh dunia. Bulan penuh berkah, suka cita, hingga di penghujung bulan nanti merayakan kemenangan. Tetapi kali ini terasa sangat berbeda.

Sosok seorang Ibu tak hadir meriahkan bulan yang suci ini.
Kalau dulu Ibu selalu berjibaku dengan sendok dan garpu untuk menyiapkan menu berbuka yang syahdu.
Kalau dulu Ibu selalu membangunkan sahur dengan lantang sampai tetangga terdengar hanya agar aku terbangun dari tidur panjang.
Kalau dulu Ibu selalu mengisi kesunyian rumah ini dengan siaran sinetron dan senyum tawa yang tidak monoton.

Namun sekarang tampak berbeda.
Tak terdengan lagi suara memasak di dapur, suara ngigo saat ngelantur, suara dengkuran di tempat tidur, suara tawa saat bersenda gurau.
Tak terlihat lagi saat bangun pagi, mau pergi, dan pulang kembali.
Tak bisa memegang tangannya, tak bisa memeluknya, tak bisa mendengar segala omelan dan nasihatnya.

Bagi sebagian orang, akan senang, bahagia, bisa berkumpul bersama keluarganya saat Ramadhan.
Terasa berbeda ketika orang yang selalu menemani saat berbuka maupun sahur telah pergi.
Sedih Iya!
Nangis Pasti!
Kesepian Apalagi!
Hal itu terjadi biasa ketika telah hadir seseorang yang bisa berbagi cerita, pikiran, perasaan tentang lika-liku kehidupan.

Tak mengapa. Ibu pasti sudah bahagia disana. Seharusnya aku juga bisa bahagia disni, selalu mendoakannya, menjadi yang terbaik untuknya, mengingat segala nasihat baiknya. Hingga nanti bertemu kembali saat waktunya telah tiba.

Hari ini bertepatan hari pertama puasa. Kehadiran Ibu memang tidak terlihat namun dapat dirasakan. Seolah-olah, seakan-akan, seperti Ibu berada hadir disini. Rasanya semakin kuat ketika pada bulan Ramadhan. Aku tau Ibu pasti masih tetap memperhatikan ku jauh disana.

Waktu terus berjalan, hidup harus terus dijalani. Aku telah dibentuk oleh rasa sakit, sendu, duka, sedih untuk bisa menjadi lebih kuat. Aku tak mau mengecewakan Ibu yang sudah bahagia disana. Aku akan terus hidup saat ini hingga nanti mati bertemu dengan Ibu kembali.

Yang terpenting adalah aku masih memiliki hal baik lainnya. Kakak yang baik dengan masakan yang enak. Abang yang tegas dengan candaan lucunya. Kucing yang lucu dengan tingkah laku imutnya. Rumah sederhana dengan keharmonisan penuh kasih sayang didalamnya.

“Tak ada yang paling berharga sepeninggalan dari Ibu kecuali nasihat”

1 Comment on this post

  • Kangkidal

    25 April 2020 at 10:21 am
    Titipkan selalu doa buat ibunda tercinta bang, doa anak yg soleh/ah lah yg diharapkan. Semoga kebaikan ibunda diterima di sisi Allah dan ditempatkan di surga-Nya Allaah. Amiin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2018 DAN. All rights reserved.
Powered by