308 views

Hamdan, bukan Dilan

Hamdan

Sore itu, di sudut kamar, pada bulan januari pertengahaan bulan, setelah lama hilang, dia tiba-tiba datang. Aku sedikit bimbang dengan sosok yang hobinya menghilang. Entah ada angin apa dia membalas chat ku yang telah usang.

Aku sejenak merenung sendirian. Ku dengar suara hpku berbunyi, kulihat ternyata balasan chat darinya. Sosok yang ingin ku temui dari dulu, menambah rasa penasaranku. Tapi kenapa kehadirannya punya maksud tertentu.

Ketika waktu itu, aku masih mengingatnya. Saat ku coba berkali-kali menghubunginya lewat sosial media yang dia punya. Responnya cuek dan seperti tak mau di ganggu. Aku sih menganggapnya biasa saja, karena sudah terlalu sering diperlakukan seperti itu.

Sikapnya yang dulu dan sekarang berbanding terbalik 360 derajat. Dulunya dia seperti tak peduli, sekarang nampaknya dia ingin menghampiri. Bisa saja waktu itu dia punya kekasih atau lagi mau sendiri. Di lihat tempo dia membalas chat nya, kelihatan dia lagi kesepihan dan butuh teman.

Meskipun begitu, aku tetap harus membalasnya. Awal perbincangannya seperti ini
Aku bertanya:
“P, Raikiah”
“iya, ini siapa?” dia menjawab.
“masa lupa?”
“siapa?, gatau ah” dia menjawab dipenuhi dengan rasa penasaran dan sediki kesal.
“Hamdan”
“Hamdan mana… Tinder ya?” dia ingin memastikan apa aku kenalannya dari Tinder.
“Ah Tinder? Rai main tinder juga, hehe” aku sedikit kaget, tak ku sangka dia main Tinder.

Singkat cerita dia awalnya lupa siapa aku. Tapi setelah ku jelaskan dan membantu untuk mengingatnya dia jadi lebih tahu tapi belum sepenuhnya ingat sih hehe.
Raikiah, itu temannya temanku ketika smp. Temanku itu satu smk denganku.

Rumahnya di dalam komplek penerbangan yang secara kebetulan juga temanku smk tinggal di situ juga. Sedikit aneh dan ribet bukan? Belum, itu belum semuanya. Raikiah bersekolah yang kebetulan lagi dan lagi temanku smp adalah temannya juga waktu sma. Haha… pening pening deh loh. Sampai situ aja sih, klw sd nya aku tidak tahu dan tk atau play groupnya tidak sempat bertanya.

Hari demi hari aku semakin sering chat dengannya. Malamnya ku tunggu balasan chat darinya tak juga di balas, mungkin sudah tidur. Paginya aku chat duluan, namun tak kunjung ada balasan. Hingga besoknya, dia membalas chat ku, ternyata hp nya rusak. Oh jadi karena itu dia tak membalasnya.

Suatu ketika, dia lama membalas pesan yang ku sampaikan. Alasannya cukup menarik namun tak masuk akal yaitu notifnya tidak muncul dan dia jarang membuka aplikasi pesan singkat itu. Lalu dia menyarankan aplikasi lain untuk komunikasi, dia sering memakainya karena dia sering komunikasi dengan ayahnya melalui aplikasi itu. Dimintanya lah nomor ku dan ku kirim dengan rasa jengkel.

Kemudian, dia mengirimkan pesan singkat padaku.
“P, P, di read aja ya”
“masih mending, daripada gak di read, gak di balas” jawabku kesal menyindirnya.
“ih lantam kali ya, “ katanya. “notifnya gak masuk loh, L”
Ih! Jurus cewek mungkin hanya satu ya, dimana ketika dia merasa bersalah, caranya ya gitu, emot sedih, pura-pura sedih bahkan sampai nangis. Caranya halus tapi bagaikan penuh akal bulus. Okelah bisa aku terima, lagian kalau marah untuk apa?

Tanggal 27 Januari, aku akhirnya bertemu dengan dia. Sore itu dia mengajak ku jalan-jalan. Segera ku kesana menghampirinya dengan motor yang tua tapi penuh kenangan. Sesampai di depan rumahnya, terdengar beberapa orang ngobrol didalam. Bukannya tadi dia bilang, dia sendirian? Ternyata temannya, mungkin karena dia kesepihan dan sendirian.

Kemudian kami pergi setelah temannya pulang. Suasana tampak ramai di mall yang kami kunjungi. Rasanya sudah lama sekali tak seperti ini. Tapi waktu merenggut kebersamaan secepat kilat. Sudah hampir tengah malam, kami harus pulang cepat.

Sampai di rumahnya, aku dan dia berbincang banyak hal. Mulai dari dia suka kucing sampai hal-hal yang tak penting. Aku tidak bisa berlama-lama disini, karena sudah larut malam dan gerbang ditutup jam 00.00.

Waktu terus berlalu, akhir-akhir ini sikapnya berubah. Tidak pernah chat duluan, balasnya kelamaan,  dan banyak hal lainnya. Setelah bertemu dengannya, kenapa dia seperti ingin aku menjauhinya.

Waktu silih berganti, sikapnya terus begitu dan cueknya kali ini tak berhenti-henti. Aku datangi rumahnya, rumahnya kosong, lalu  ku titipkan sepucuk surat. Ku letakkan surat pernyataan itu di gagang pintu lalu ku foto dan ku kirim kepadanya.

Dia pernah cerita saudaranya ada di berastagi, kalau liburan dia memang sering main kesana. Tapi kenapa sampai nomornya gak aktif berhari-hari. Sampai ketika,,,
“Raikiah,” kataku. “balaslah, kamu kenapa?”
“Kalau kamu mau aku pergi, aku akan pergi dan tak kembali” jawabku tegas dan sedih.

Aku tak tahu harus berbuat apa, dia tak mengatakan apa-apa. Berubah bagaikan bunglon suka-suka penuh warna-warni di pelangi. Ku coba terus mencari tahu, mendatangi rumahnya, menelponnya. Siang itu, akhirnya ku jumpa dirinya di depan jalan arah ke rumahnya. Ku lihat dia bergegas pergi menaiki becak dengan teman-temannya.

“Mau kemana?”
“ke rumah teman” jawabnya
“yaudah pergilah,” balasku kecewa karena singkat bertemu dirinya,
Padahal masih banyak tanda tanya di pikiran yang ingin ku utarakan padanya. Saat itu memang kebetulan lewat arah rumahnya sama dengan rumah saudara yang mau ku kunjungi. Berharap dia chat duluan, mencoba menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya. Namun, dia tak juga memberi tahu padaku. Kuberanikan diri chat ke dia.

“sampai jam berapa” tanyaku singkat
Beberapa jam tak di balas. Ku cek lagi, tapi ada yang aneh, ternyata ku di blokir. Semua sosial media di unfriend. Ada apa ini? Pikiran dan hati ku kacau. Hingga menjelang petang, di balasnya.

“aku tidur rumah teman, oh iya aku udah gak tinggal di situ lagi, jauh dari situ pokoknya” balasnya. “kau jangan datang-datang lagi ya, karena nanti di liatin tetangga ku”

“kau bisa kan jauhi aku,  jangan pernah dekati aku lagi, aku udah punya cowok, aku takut dia nanti salah paham” lanjutnya menjelaskan.
“oh jadi udah ada yang buat lebih nyaman” balasku santai
“iya, dia uda buat aku nyaman jauh dari aku sakit kemarin” balasnya tanpa ada kata maaf.
“oh iya, tadi lupa ngasih sesuatu”
“mau ngasih apa?” dia nanya.
“ nanti juga tau sendiri” jawabku.

Sekarang kalian tahu kan sikap dia yang sebenarnya. Awalnya ku kira dia itu baik lemah lembut. Tapi nyatanya dia tak sehebat itu. Dari panggilan aku kamu sampai nama, sekarang dengan mudahnya dia bilang “kau”. Bagi segilintir orang biasa saja, tapi itu kurang sopan dan tidak enak di dengar.

Kenapa dia tidak bilang dari awal, benar dugaan ku selama ini. Aku hanya sebagai
tempat ketika dia bosan dan kesepihan. Semudah itu dia mengatakan seolah-olah tak ada yang yang tersakiti, seolah-olah dia tak punya kesalahan.

Datang mencuri  hati tanpa permisi lalu pergi dan tak kembali. Aku hanya ingin tahu kenapa dia seperti itu, aku tak pernah berbuat salah. Kalau pun iya, aku sudah minta maaf padanya. Aku bukan seperti dirinya, yang sudah jelas berbuat kesalahan tapi tak mau minta maaf.

Aku hanya ingin minta penjelasan, aku tidak takut pada siapapun termasuk cowoknya yang di rasa hebat itu.

Terakhir yang ingin ku berikan padanya, hanya sebuah surat perpisahan dan kekecewaan. Aku sudah berjanji ingin memberikan kucing tapi dengan sikapnya yang seperti itu, ku urungkan niatku. Aku tak mau menambah dosa, aku tak mau, kucing yang ku berikan nanti bernasib sama seperti kucingnya yang dulu mati di tinggal pergi dan tak di kasih makan karena dia tak peduli.

Kalian bisa menilai sendiri bagaimana sikap dia yang sebenarnya. Dia hanya memanfaatkan ku untuk mengisi kekosongan dan kesepihannya.  Nyatanya, bulan februari yang katanya penuh kasih dan cinta, bagi ku penuh perih dan luka.

Tanpa ada kata maaf dan terima kasih ku dengar dari mulut yang kelihatan manis itu. Aku juga tak patut menilai seperti itu. Biarlah semesta yang melihat dengan sendirinya. Aku yakin semesta punya rencana terbaiknya atas diriku dan dirinya.

“Terima kasih sudah membuat aku jatuh cinta lalu pergi. Ternyata tanpa kamu pun hidup tetap bisa dihadapi.”

Maaf unruk segala khilaf dan Terima Kasih untuk waktu yang sesingkat ini. . .

Tutup kalimat pesan di surat perpisahan yang ku berikan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2018 DAN. All rights reserved.
Powered by