710 views

Anak Terakhir

Family

Panasnya cahaya matahari menyentuh kulit yang berwarna sawo matang itu saat Dani duduk mengendarai motor tua yang masih tampak kokoh. Di tengah-tengah macetnya kota metropolitan Dani harus bergegas berpacu dalam waktu. Dilihatnya arloji yang berwarna hitam menunjukkan pukul 07.10 WIB. Sudah 20 menit lebih dia mengendarai motor itu dari rumah. Sebelum pukul 07.30 dia harus sampai ke sekolah kalau tidak dia pasti di hukum Bu Mumun yang sudah menunggu berdiri di depan pintu gerbang sekolah.

Selepas pulang sekolah, Dani bergegas melewati gang sekolahnya yang cukup terawat dan jauh dari kata kumuh. Tampak ramai anak-anak pulang sekolah berjalan kaki, menaiki kendaraan sampai nebeng bareng mantan. Sesampainya dirumah, Dendy langsung menyambutnya. Dendy seekor kucing yang lucu dan sering buat ulah.

Dani terlahir dari keluarga yang sederhana. Tidak miskin juga tidak kaya. Dia anak ke–5 dari 6 bersaudara. Semuanya berubah ketika saat dia masih kecil, seluruh keluarganya sakit, kecuali Ayahnya. Anehnya mereka sakit dalam waktu yang bersamaan. Mulai dari adiknya yang bernama Lia sampai Ibunya yang tampak masih muda. Sakit yang diderita berupa demam panas dingin disertai muntah. Tidak lama kemudian lia meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarganya.

Di tinggal oleh seorang adik  membuat bekas luka yang teramat dalam. Sejak kecil Dani seringkali bermain dan bergurau bersama adiknya. Pertengkaran kecil, berebut mainan mau pun makanan tak terhindarkan. Pernah ketika mereka berlari di suatu ruangan, tak sengaja kepala Lia terbentur sebuah meja tv. Sontak Dani kaget dan mencoba menghibur sang Adik yang terisak menangis karena kesakitan.

Kenangan lainnya yang tak kalah indah yang takkan pernah terlupa. Saat itu Ibu sedang memasak makanan berprotein didapur. Dani dan Lia bersama mereka ke dapur megganggu konsentrasi Ibunya. Dengan serentak mereka mencomot tahu dan tempe yang masih mentah itu dimakannya langsung tanpa diberi aba-aba oleh Ibu. Ibu tak heran karena mungkin saja mereka mencontoh Ayahnya yang acapkali memakan makanan mentah.

Kini Dani merasa kesepian dalam keramaian. Kejadian yang belum lama ini menambah goresan luka dihatinya. Sosok Abang panutannya harus meninggalkan dunia yang fatamorgana ini. Tepat pada tahun 2009 waktu itu Abangnya (Januar) ditugaskan menjadi pembawa bendera di sekolahnya dalam upacara memperingati hari guru. Pancaran cahaya matahari di siang hari itu menghentikan langkahnya secara perlahan. Belum sempat menaikkan bendera ke atas tiang, dia jatuh di sertai darah yang keluar dari hidungnya. Sesegera mungkin dia dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Namun waktu berkata lain. Cukup sudah petualangannya di dunia ini.

Yang tersisa tinggal 2 Kakaknya dan 1 Abangnya. Kakaknya anak pertama sudah menikah dan tinggal di rumahnya sendiri bersama Suaminya. Abangnya anak kedua juga sudah menikah dan tinggal di kampung Istrinya di daerah pinggiran laut. Dan Kakaknya anak ketiga (sebenarnya keempat) baru-baru ini di pinang oleh pria Karo yang kulitnya cukup hitam legam. Mereka masih tinggal satu atap bersama Dani dan kedua Orang Tuanya. Dani menjadi anak terakhir setelah kepergian adiknya tercinta.

Menjadi anak terakhir bukan hal yang mudah tapi tidak sulit juga. Kuncinya harus sabar dan mengalah dengan kedaan yang ada. Sasaran jadi TS (Tukang di Suruh) pun tak dapat dielakkan. Anak terakhir memang sasaran empuk untuk di suruh-suruh. Suatu ketika Ibu menyuruh Kakak melakukan sesuatu, sering kali Kakak menyuruh Adiknya untuk melakukannya. Bukan hal yang langka namun memang sudah sering terjadi.

Hal lainnya yang tak kalah BiKeS (bikin KzL) saat Kakak atau Abang melakukan kesalahan, mereka menyuruh Adiknya untuk membersihkan kesalahan yang mereka perbuat. Apa korelasinya coba? Kelemahan lainnya menjadi anak terakhir adalah tidak bisa membantah perintah Kakak, Abang, dan Orang Tua. Ya mereka sesuka hati saja menyuruh ini itu, Aku mau menyuruh siapa? Dendy? Rumput yang bergoyang? Eyang? Subur? Kacang Ijo? Kolor?

Anak terakhir sering kali di labelin dengan anak yang paling di manja, di sayang, dan hal-hal lainnya yang belum tentu terbukti kebenarannya. Bukannya saat mereka masih kecil diperlakukan seperti itu?! Hanya saja beda masa dan  zamannya. Faktor tersebut tidak bisa menjadi alasan membuat mereka merasa iri atau korban pilih kasih.

Ibaratkan dalam kerajaan, anak terakhir itu prajurit. Ayah raja, Ibu ratu, Abang dan Kakak panglimanya. Panglima lah yang paling berkuasa memerintahkan segala sesuatunya pada prajurit. Pernah mendengar cerita prajurit mengalahkan raja/ratu? Didalam peperangan raja/ratu paling belakang, panglima ditengah-tengah, dan prajurit dibarisan paling depan. Prajurit maju duluan ke medan perang. Saat pasukan musuh habis, yang tersisa tinggal raja dan ratu. Cukup mudah mengalahkan raja dan ratu dengan ribuan prajurit. Sedangkan panglima serta raja dan ratunya masih di dalam istana sembari ngopi-ngopi di tambah sepiring gorengan. Begitulah kira-kira analoginya.

Yang paling menjengkelkan di saat orang tua menyuruh kita. Bukan, bukan saat menyuruh hal yang tidak biasa kita lakukan. Tapi hal yang tidak biasa Kakak/Abang kita lakukan. Ketika di suatu kondisi, Ibu menyuruh memberi makan Dendy. Saat itu kakak dan abang sedang duduk santai dirumah. Uniknya kenapa why selalu always? Mereka jarang sekali melakukan hal tersebut. Meskipun sudah disuruh tapi dilemparkan ke adiknya. WatDePil? Rasa kesal pun mulai menumpuk di benak dan siap diledakkan jika perlu. Namun Ibu berkata, “Sudah lah, Ibu minta tolong”. Kalimat tersebut yang tidak bisa diabaikan dan hati seketika luluh.

Berpikir sejenak dan mencoba membuat kalimat motivasiku sendiri, yang berbunyi :

Anak Terakhir lebih baik daripada Anak Jalanan, Anak Langit dan Anak Onda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© 2018 DAN. All rights reserved.
Powered by